Senin, 15 September 2008
PeRalaTan LaboratoRium

INTISARI

PERALATAN LABORATORIUM

Oleh:
ADISTY RESTU POETRI
06/193743/KG/08043

Dalam suatu laboratorium banyak terdapat berbagai macam peralatan yang mana memiliki fungi serta prinsip yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu agar dapat melakukan praktikum dengan baik, maka setiap mahasiswa diharapkan dapat mengetahui serta memahami fungsi dan peralatan yang terdapat di laboratorium.
Metode yang digunakan agar dapat memenuhi tujuan tersebut adalah dengan mencari informasi-informasi tentang peralatan dari internet baik berdasarkan artikel ataupun jurnal. Selain itu berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh dosen di depan kelas.
Setelah melakukan observasi diketahui dalam laboratorium terdapat beberapa peralatan antara lain yaitu mikroskop, sentrifugator, inkubator, sterilisator sebagai alat utama serta micro pipe, micro tube, piring petri sebagai alat pendukung.

Kata kunci: mikroskop, sentrifugator, incubator

PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan teknologi, maka dalam dunia kedokteran peralatan yang ada juga mengalami perkembangan. Awalnya mungkin hanya satu peralatan di laboratorium yang dapat digunakan untuk melakukan penelitian. Rasa ingin tahu sangat tinggi pada manusia akan berbagai hal di muka bumi ini menyebabkan satu buah peralatan sederhana mulai berkembang menjadi peralatan yang lebih canggih dan kemudian dari satu buah peralatan tersebut muncul pula peralatan lain dengan fungsi serta peranan yang berbeda-beda.
Berkembangnya peralatan-peralatan tersebut sesungguhnya merupakan salah satu bentuk perwujudan dari rasa ingin tahu dalam diri manusia yang tinggi. Bahkan peralatan yang hanya memiliki satu buah fungsi tidak menutup kemungkinan berubah menjadi multifungsi.
Mahasiswa kedokteran gigi dalam kegiatannya sangat terkait dengan peralatan laboratorium. Sehingga diharapkan dapat berperan serta dalam perkembangan jaman yang tentunya berpengaruh terhadap perkembangan teknologi. Oleh karena itu, agar dapat melakukan praktikum ataupun penelitian dengan baik dan benar, maka mahasiswa harus mengetahui dan memahami fungsi serta prinsip dari masing-masing peralatan yang ada di dalam laboratorium.
PEMBAHASAN

A. Mikrsokop Cahaya
Mikroskop cahaya memiliki perbesaran 1000 kali. Mikroskop ini memiliki tiga sistem lensa, yaitu lensa obyektif, okuler, dan kondensor.
Lensa obyektif berfungsi untuk membentuk bayangan pertama dan lensa okuler berfungsi untuk memperbesar bayangan yang dihasilkan oleh lensa obyektif sebesar 4 sampai 25 kali. Sedangkan lensa kondensor berfungsi untuk mendukung terciptanya pencahayaan pada obyek yang akan dilihat sehingga dengan peraturan yang tepat akan diperoleh daya pisah maksimal (Mikroskop wikipedia 10/09/2008).

B. Mikroskop Fluoresens
Mikroskop fluoresens mengambil keuntungan dari sifatfluoresens, suatu kemampuan untuk menyerap gelombang cahaya yang pendek (UV) dan memancarkan gelombang cahaya panjana (terlihat). Beberapa organism secara natural berfluoresens di bawah sinar UV. Jika specimen tidak memperlihatkan sifat tersebut saat di sinari dengan ultraviolet, maka specimen diberi warna menggunakn dluorochrome. Prinsip mikroskop fluoresens adalah teknik diagnose yang disebut fluorescent-antibody (FA) techniqueatau immunofluoresence (Tortora, 2001 ).

C. Mikroskop Fase Kontras
Cara ideal dalam meneliti ataupun mengamati makhluk hidup adalah dalam keadaan alamiahnya, yaitu tidak diberi warna. Namun pada kenyataannya makhluk hidup yang mikroskopik (jaringan hewan atau bakteri) sifatnya tembus cahaya akibatnya bagian yang ingin dilihat justru menjadi sukar untuk diamati. Kesulitan ini akhirnya dapat diatasi dengan menggunakan mikroskop fase kontras

D. Mikroskop Elektron
Mikroskop Elekron mempunyai perbesaran sampai 100 ribu kali, elektron digunakan sebagai pengganti cahaya.
Sumber lain menyatakan bahawa mikroskop elektron mampu melakukan perbesaran obyek sampai 2 juta kali, yang menggunakan elektro statik dan elektro magnetik untuk mengontrol pencahayaan dan tampilan gambar serta memiliki kemampuan pembesaran obyek dan resolusi yang jauh lebih bagus dibandingkan mikroskop cahaya (Mikroskop electron wapedia 10/09/2008).
Mikroskop elektron mempunyai dua tipe, yaitu mikroskop elektron scanning (SEM) dan mikroskop elektron transmisi (TEM).
1. Transmission Electron Microscope (TEM)
Mikroskop ini bekerja seperti layaknya sebuah slide proyektor, di mana obyek yang akan diamati ditembus oleh elektron dan pengamat dapat mengamati hasil tembusannya lewat layar. Pada resolusi yang tingi pengamat bahkan dapat melihat struktur kristal. Namun sampai sekarang pengembangan akan mikroskop electron jenis ini masih terus dilakukan sebab peneliti kerap kali merasa tidak puas terhadap syarat “agar obyek pengamatan setipis mungkin” terutama bagi peneliti yang obyek pengamatannya tidak dapat dipertipis begitu saja.
2. Scanning Electron Microscope (SEM)
Mikroskop ini memfokuskan sinar elektron pada permukaan obyek kemudian mengambil gambarnya dengan mendeteksi elektron yang muncul di permukaan obyek. Sinar electron tersebut nantinya akan digerakkan oleh coil pembelok sinar ke seluruh permukaan obyek yang diamati. Kelemahan mikroskop ini adalah electron yang diamati bukan dari sinar electron yang dipancarkan namun electron dari dalam obyek itu sendiri. Sehingga untuk menanggulangi terjadinya penumpukan electron maka obyek yang diamati harus bersifat kondusif supaya electron dapat mengalir. Sedangkan untuk obyek yang tidak kondusif dapat diatasi dengan melapisi permukaan obyek tersebut menggunakan emas, karbon atau platina setipis mungkin. Namun seperti halnya TEM, SEM ini juga tidak memuaskan peneliti terutama bagi mereka yang obyek penelitian tidak dapat dipertipis dan tidak kondusif. Sebab peneliti tersebut ingin mengamati obyek apa adanya

E. Scanning Probe Microscope
Mikroskop ini digunakan untuk mengamati gambaran permukaan obyek dengan menggunakan probe yang sangat sensitif, dan digerakkan pada permukaan obyek.
1. Scanning Tunneling Microscope
Merupakan salah satu jenis mikroskop elektron yang mampu menunjukkan obyek dalam bentuk gambar tiga dimensi. Agar hasil obyek pengamatan dapat ditampilkan secara maksimal maka probe harus diposisikan sedekat mungkin dengan obyek. Elektron tunnel antara permukaan obyek dengan ujung probe akan membentuk suatu sinyal elektrik. Ujung probe digerakkan di permukaan obyek namun hanya sejauh diameter atom saja. Ujung probe digerakkan naik-turun untuk menjaga sinyal elektron tetap konstan dan menjaga jarak antara permukaan obyek dengan ujung probe. Hal ini memungkinkan ujung probe untuk mengamati obyek hingga hal yang paling detail . Saat ini, scanning tunneling microscope digunakan untuk mengamati DNA secara langsung.

2. Atomic Force Microscope
Atomic force microscope mampu menampilkan gambar dimana ukurannya lebih kecil dari 20ms. Mikroskop ini juga memungkinkan menampilkan gambar yang dari kristal yang lunak dan permukaan polimer (A. D. L. Humphris, M. J. Miles, and J. K. Hobbsb,2005).
Atomic force microscope memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan scanning electron microscope. Tidak seperti mikroskop elektron yang menghasilkan gambar dua dimensi dari sampel, atomic force microscope memberikan gambaran sampel berupa tiga dimensi. Selain itu sampel yang akan dilihat menggunakan atomic force microscope tidak memerlukan perlakuan khusus, seperti melapisi dengan karbon, dll yang dapat menimbulkan perubahan ireversibel ataupun kerusakan pada sampel. Atomic force microscope dapat bekerja sebaik mungkin dalam kondisi lingkungan seperti apapun. Hal tersebut memungkinkan utnuk melakukan studi biologi dan mengamati kehidupan suatu organisme. Secara prinsip atomic force microscope menyediakan resolusi yang lebih tinggi disbanding scanning electron microscope. Sedangkan kelemahan atomic force microscope dibanding dengan scanning electron microscope ada pada ukuran gambar. Scanning electron microscope dapat menangkap gambar dengan unit mm x mm dengan lapang pandang dalam mm. Sedangkan atomic force microscope hanya dapat menangkap gambar dengan ketinggian maksimum dalam unit micrometer dan luas maksimum pengamatan 150 x 150 micrometer. Mungkin yang dimaksud dalam hal ini yaitu kemampuan atomic force microscope yang hanya menampilkan gambar yang ukurannya sangat kecil. Sehingga jika ukurannya cukup besar, atomic force microscope tidak dapat menampilkan (Atomic force microscope wikipedia 10/09/2008).

F. Mikroskop Konvokal
Dalam menghasilkan gambar yang tajam dua atau tiga dimensi dengan menggunakan cahaya, mikroskop konvokal tak tertandingi. Selain itu, mikroskop konvokal ini dapat juga digunakn untuk melihat apa yang terdapat di dalam jaringan hidup specimen (Lichtman, 1998)

G. Polymerized Chain Reaction (PCR)
PCR merupakan suatu alat yang dapat memproduksi copy DNA dalam jumlah yang sangat besar hanya dalam waktu singkat (Wistreich,1984). Copy DNA menggunakan PCR terjadi melalui tiga tahap, yaitu denaturasi, annealing, dan ekstension. Beberapa aplikasi PCR diantaranya ialah untuk mendeteksi gen yang cacat, diagnosis dini penyakit HIV,serta untuk memecahkan kasus kriminal (Clave et al.,1999).

H. Inkubator
Masa inkubasi dengan temperatul yang terkontrol sangat dibutuhkan dalam kultur bakteri, transfuse darah, serologi, hematologu, tes kimia.
Untuk kultur bakteri yang dilakukan secara rutin di sebagian besar laboratorium, incubator dengan kapasitas yang kecil dengan thermostat hidrolic sudah cukup. Jika dibutuhkan inkubator dengan kapasitas yang besar, sebaiknya menggunakan incubator di mana untuk sirkulasi udara memakai kipas angin (Cheesbrough, 1987).

I. Sentrifugator
Sampai saat ini kekuatan sentrifugal diperlukan untuk mengendapkan partikel dalam suatu cairan yang akan diteliti dengan menggunakan kecepatan putaran dalam rpm. Sedimentasi atau hasil endapan yang tepat sangat bergantung dari kecepatan putaran yang duberikan (Cheesbrough, 1987 ).
Sentrifugator dibedakan menjadi 4 macam berdasarkan kecepatan putarannya, antara lain clinical centrifuges (3000 rpm), microfuges (14.000 rpm), high speed centrifuges (25.000 rpm), dan ultracentrifuges (75.000 rpm) (Wallman, 1999).

J. Laminar Hood
Laminar hood dibuat untuk melindungi pekerjaan laboratorium dari lingkungan sekitar. Pada laminar hood, dialirkan secara langsung ke sekitar daerah kerja aliran udara steril yang telah mengalami proses filtrasi. Laminar hood mempunyai peranan dalam mencegah kontaminasi saat menuang agar biakan ke dalam piring petri (Collins dan Lyne,1976).

K. pH meter
Sebagian besar pH meter menggunakan kombinasi pH electrode yang mana sebuah electrode di dalam gelas pengukur akan dikombinasikan menjadi satu kesatuan unit bersama reference calomel electrode. Perbedaan potensial yang terukur dihubungkan ke pH value, dengan mengukur perbedaan potensial pada buffer, pH dapat diketahui secara tepat (Cheesbrough, 1987).





Muph yaw...g maksimal...
habisnya.... aku ga bisa menampilkan seperti yang asli,,,
binun,,,
hehehehe...


0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Rabu, 10 September 2008
Pengenalan Peralatan Laboratorium Biologi Mulut

Hmmm,,, Hari ini qta belajar tentang alat-alat di Lab OB (Oral BioloGy),,,
ok

A. MIKROSKOP
1. Mikroskop Cahaya
a. Mikroskop Medan Terang
Lapang pandang yang mengelilingi spesimen kelihatan terang sedangkan spesimen tampak gelap. Lensa yang digunakan ada dua macam yaitu obyektif dan okuler. Lensa obyektif memberikan perbesaran awal dan menghasilkan bayangan nyata, kemudian diproyeksikan ke lensa okuler. Lensa okuler memperbesar bayangan dan menghasilkan bayangan maya yang terlihat oleh mata. Mikroskop ini digunakan untuk melihat morfologi sel atau organisme.

b. Mikroskop Medan Gelap
Digunakan untuk melihat sel-sel atau organisme yang tidak diwarnai. Obyek pada spesimen tampak berpendar (brightly illuminated). Dapat digunakan untuk identifikasi bakteri seperti trponema pallidum.

c. Mikroskop Fluoresens
Merupakan modifikasi medan terang. Spesimen dipapar dengan sinar UV, violet, atau sinar biru dan kemudian membentuk obyek yang menghasilkan sinar fluoresens. Spesimen biasanya diwarnai dengan molekul pewarna (fluorochrome), yang menghasilkan fluoresensi pada pemaparan panjang gelombang tertentu. Mikroskop ini untuk membedakan antara bakteri hidup dan bakteri mati.


0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Kamis, 03 Juli 2008
Non-odontogenic tumour of the jaws

Non-odontogenic tumour of the jaws

Juni Handajani

Department of Oral Biology

Faculty of Dentistry

Gadjah Mada University

OSTEOMA AND OTHER BONY OVERGROWTH


  • True tumours consisting of bone (either compact or cancellous) are occasionally seen
  • Localised overgrowth of bone (exostoses) are more common
  • Consist of lamellae of compact bone but large specimen may have core of cancellous bone
  • Small exostoses may form irregularly on the surface of alveolar processes
  • Specific variants are torus palatinus and torus mandibularis
  • Differ from other exostoses only in that they develop in characteristic sites and are symmetrical

Torus palatinus


  • Commonly forms towards the posterior of the midline of the hard palate
  • The swelling is rounded and symetrical
  • Sometime with a midline groove
  • It is not usually noticed until age and
  • If it interferes with the fitting a denture, should be remove

Tori mandibularis


  • Form on the lingual aspect of the mandible opposite the mental foramen
  • Typically bilateral
  • Forming hard
  • Rounded swelling

Compact and cancellous osteoma

  • Consist of lamellae of bone
  • Sometimes in layers like an onion but in haversian systems
  • The dense bone contains occasional vascular spaces and grows very slowly
  • Cancellous osteomas consist of slender trabeculae of bone with interstitial marrow spaces and a lamellated cortex

Gardner’s syndrome

  • Comprises multiple osteomas of the jaw
  • Polyposis coli with a high malignant potential
  • Often other abnormalities: dental defect and epidermal cysts or fibromas
  • It is inherited as autosomal dominant trait
  • Penetrance is weak

OSTEOCHONDROMA (Cartilage-capped osteoma)

  • Grow by ossification beneath a cartilaginous cap (not be visible in rö)
  • Most arise from the region of coronoid or condylar process
  • Form a hard bony protuberance which can interfere with joint function
  • Almost any age can be affected
  • Pathology
  • The lesion is subperiosteal
  • Has a cap of hyaline cartilage, where the cartilage cells are sometimes regularly aligned or irregular and contain minute foci of ossification
  • As age advances, the mass progressively ossifies
  • Benign and usually cease to grow after skeletal maturation

MALIGNANT NEOPLASMS OF BONE

  • Highly malignant
  • The most common primary (non-odontogenic) neoplasm of bone
  • Rare especially in jaws
  • Typically seen between the aged 30 and 40
  • Males are slightly more frequently
  • The body of mandible is common site
  • Typically a firm swelling which grows noticeably in a few months
  • Become painful
  • Teeth may be loosened
  • Paraesthesia or loss of sensation in the mental nerve area
  • Metastases to the lung may develop early

Radiographically

  • Appearance are variable
  • Irregular bone destruction usually predominates over bone formation
  • Bone formation in a soft tissue mass is highly characteristic, but rarely seen

Pathology

  • Neoplastic osteoblasts vary in size and shape, may be small and angular or large and hyperchromatic
  • Mitoses may be seen, particularly in the more highly cellular areas
  • Giant cells may be conspicuous, but many cell are nondescript
  • Bone formation does not necessarily predominate
  • Osteoid formation is the main diagnostic criterion and is seen in metastases
  • Cartilage and fibrous tissue are usually present and sometime predominate but usually in part of tumour

Chondroma and chondrosarcoma

Histologically

  • Consist of hyaline cartilage
  • The cells are irregular in size and distribution
  • Calcification or ossification may develop
  • 20% chondrosarcomas in maxillofacial area were originally thought to have been chondromas

Chondrosarcoma

  • Affect adults at an average age of about 45.
  • The anterior maxilla is the site in 60% of cases.
  • Pain, swelling or loosening of teeth
  • Radiolucent area are typical
  • The radiolucency can be well or poorly circumscribed or may appear multilocular
  • Calcification present and may be widespread and dense

Pathology

  • The cartilage is compartively well-formed or, less often, poorly differentiated or mixoid.
  • The chondrocytes are pleomorphic, often binucleate and may show mitotic activity
  • Maxillofacial chondrosarcomas are aggressive
  • Local recurrence or persistent tumour is the main cause of death
  • Lungs or other bones are the usual sites of distant spread but fewer than 10% of these tumours metastasise

Mesenchymal chondrosarcoma

  • Is uncommon but highly malignant variant
  • Is highly cellular tumour in which there are only small foci of tissue recognisable as poorly-formed cartilage
  • It is some times very vascular



2 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Kamis, 27 Maret 2008
Kontra Indikasi pada eksodonsi

KONTRA INDIKASI EKSODONSI

Pendahuluan

Untuk mendukung diagnosa yang benar dan tepat serta menyusun rencana perawatan yang tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, maka sebelum dilakukan tindakan eksodonsi atau tindakan bedah lainnya harus dipersiapkan dahulu suatu pemeriksaan yang teliti dan lengkap. Yaitu dengan pertanyaan adakah kontra indikasi eksodonsi atau tindakan bedah lainnya yang disebabkan oleh faktor lokal atau sistemik.

Kontra indikasi eksodonsi akan berlaku sampai dokter spesialis akan memberi ijin atau menanti keadaan umum penderita dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita.

Kontra Indikasi Sistemik

Pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan eksodonsi. Bukan kontra indikasi mutlak dari eksodonsi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut, eksodonsi bisa dilakukan dengan persyaratan bahwa pasien sudah berada dalam pengawasan dokter ahli dan penyakit yang menyertainya bisa dikontrol dengan baik. Hal tersebut penting untuk menghindari terjadinya komplikasi sebelum pencabutan, saat pencabutan, maupun setelah pencabutan gigi.

1. Diabetes Mellitus

Malfungsi utama dari diabetes melitus adalah penurunan absolute atau relative kadar insulin yang mengakibatkan kegagalan metabolisme glukosa. Penderita diabetes melitus digolongkan menjadi:

1. Diabetes Melitus ketergantungan insulin (IDDM, tipe 1, juvenile,ketotik, britlle).

Terjadi setelah infeksi virus dan produksi antibodi autoimun pada orang yang predisposisi antigen HLA. Biasanya terjadi pada pasien yang berumur di bawah 40 tahun.

2. Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (NDDM, tipe 2, diabetes dewasa stabil).

Diturunkan melalui gen dominan dan biasanya dikaitkan dengan kegemukan. Lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun.

Pembedahan dentoalveolar yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2 dengan menggunakan anestesi local biasanya tidak memerlukan tambahan insulin atau hipoglikemik oral. Pasien diabetes tipe 1 yang terkontrol harus mendapat pemberian insulin seperti biasanya sebelum dilakukan pembedahan; dan makan karbohidrat dalam jumlah yang cukup. Perawatan yang terbaik untuk pasien ini adalah pagi hari sesudah makan pagi. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, yang sering disebabkan oleh karena sulit mendapatkan insulin, harus dijadikan terkontorl lebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan. Ini biasanya memerlukan rujukan dan kemungkinan pasien harus rawat inap.

Diabetes dan Infeksi

Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak memerlukan terapi antibiotik profilaktik untuk pembedahan rongga mulut. Pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol akan mengalami penyembuhan lebih lambat dan cenderung mengalami infeksi, sehingga memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. Responnya terhadap infeksi tersebut diduga keras akibat defisiensi leukosit polimorfonuklear dan menurunnya atau terganggunya fagositosis, diapedisis, dan khemotaksis karena hiperglikemi. Sebaliknya, infeksi orofasial menyebabkan kendala dalam pengaturan dan pengontrolan diabetes, misalnya meningkatnya kebutuhan insulin. Pasien dengan riwayat kehilangan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui, yang terjadi bersamaan dengan kegagalan penyembuhan infeksi dengan terapi yang biasa dilakukan, bisa dicurigai menderita diabetes.

Keadaan Darurat pada Diabetes

Diabetes kedaruratan, syok insulin (hipoglikemia), dan ketoasidosis (hiperglikemia) lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1. Kejadian yang sering terlihat adalah hipoglikemia, yang dapat timbul sangat cepat apabila terjadi kegagalan menutupi kebutuhan akan insulin dengan asupan karbohidrat yang cukup. Sedangkan ketoasidosis biasanya berkembang setelah beberapa hari. Pasien yang menderita hipoglikemia menunjukkan tanda-tanda pucat, berkeringat, tremor, gelisah, dan lemah. Dengan pemberian glukosa secara oral (10-20 gram), kondisi tersebut akan dengan mudah membaik. Kegagalan untuk merawat kondisi ini akan mengakibatkan kekejangan, koma, dan mungkin menyebabkan kematian. Untuk mengatasi ketoasidosis diperlukan pemberian insulin dan cairan. Hal tersebut sebaiknya dilakukan di rumah sakit (pasien rawat inap).

2. Kehamilan

Pregnancy bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi, karena tidak ada hubungan antara pregnancy dengan pembekuan darah. Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari pregnancy gingivitis yang disebabkan pergolakan hormon selama pregnancy.

Yang perlu diwaspadai adalah sering terjadinya kondisi hipertensi dan diabetes mellitus yang meskipun sifatnya hanya temporer, akan lenyap setelah melahirkan, namun cukup dapat menimbulkan masalah saat dilakukan tindakan perawatan gigi yang melibatkan perusakan jaringan dan pembuluh darah. Jadi, bila ada pasien dalam keadaan pregnant bermaksud untuk scaling kalkulus atau ekstraksi, sebaiknya di-refer dulu untuk pemeriksaan darah lengkap, laju endap darah, dan kadar gula darahnya. Jangan lupa sebelum dilakukan tindakan apapun, pasien dilakukan tensi dulu.

Kalau memang ada gigi yang perlu diekstraksi (dimana hal itu tidak bisa dihindari lagi, pencabutan gigi (dan juga tindakan surgery akut lainnya seperti abses,dll) bukanlah suatu kontraindikasi waktu hamil. Hati-hati bila pada 3 bulan pertama. rontgen harus dihindari saja kecuali kasus akut (politrauma, fraktur ,dll). Hati-hati bila menggunakan obat bius dan antibiotic, (ada daftarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (FDA) sedative (nitrous oxide, dormicum itu tidak dianjurkan). Kalau memang harus dicabut giginya atau scalling pada ibu hamil, waspada dengan posisi tidurnya jangan terlalu baring, karena bisa bikin kompresi vena cafa inferior.

Kalau memang riskan, dan perawatan gigi-mulut tidak dapat ditunda sampai post-partus, maka sebaiknya tindakan dilakukan di kamar operasi dengan bekerja sama dengan tim code blue, atau tim resusitasi. Ekstraksi gigi pada pasien hamil yang ’sehat’ bisa dilakukan dengan baik dan aman di praktek, clinic biasa, atau rumah sakit.

Kesulitan yang sering timbul pada ekstraksi gigi pada ibu hamil adalah keadaan psikologisnya yang biasanya tegang, dll. Seandainya status umum pasien yang kurang jelas sebaiknya di konsulkan dulu ke dokter obsgin-nya.

3. Penyakit Kardiovaskuler

Sebelum menangani pasien ketika berada di klinik, kita memang harus mengetahui riwayat kesehatan pasien baik melalui rekam medisnya atau wawancara langsung dengan pasien. Jika ditemukan pasien dengan tanda-tanda sesak napas, kelelahan kronis, palpitasi, sukar tidur dan vertigo maka perlu dicurigai bahwa pasien tersebut menderita penyakit jantung. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan lanjut yang teliti dan akurat, misalnya pemeriksaan tekanan darah. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung diagnosa sehingga kita dapat menyusun rencana perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

Pada penyakit kardiovaskuler, denyut nadi pasien meningkat, tekanan darah pasien naik menyebabkan bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan.

Pasien dengan penyakit jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. Kontra indikasi eksodonsi di sini bukan berarti kita tidak boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini, namun dalam penangannannya perlu konsultasi pada para ahli, dalam hal ini dokter spesialis jantung. Dengan berkonsultasi, kita bisa mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi, misalnya saja penderita jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan.

4. Kelainan Darah

a. Purpura hemoragik

Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan keadaan yang biasa terjadi. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang, sehingga menuju kearah keadaan mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis.

Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia, atau pengalaman pendarahan lain. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu pendarahan dan waktu penjedalan darah, juga konsentrasi protrombin.

b. Lekemia

Pada lekemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam darah dan sumsum tulang. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan.

b.1. Lekemia Limfatika

Tanda2 :

badan mkn lelah dan lemah

tanda2 anemia à pucat, jantung berdesir, tknn drh rendah

limfonodi membesr dsluruh tbh

gusi berdarah

petechyae

perdarahan pasca eksodonsia

batuk2

pruritus

pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder

b.2. Lekemia Mielogenous

Kek. Tbh penderita bkrg

bb berkurang

tanda2 anemia

pembesaran limfa

perut terasa kembung & mual

demam

gangguan gastro intestinal

gatal2 pada kulit

perdrahan pd bbgai bag tbh

gangguan penglihatan / perdarahan krn infiltrais leukemik

perbesaran lien

perdarahan petechyae

perdrahan gusi

rasa berat di daerah sternum

c. Anemia

Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang. Selain itu, penderita anemia memiliki kecenderungan adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler.

d. Hemofilia

Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah, hemostasis primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka, disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit, faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin, konversi dari prothrombin menjadi thrombin, dan akhirnya membentuk deposisi fibrin.

Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX. Sedangkan pada von Willebrand’s disease terjadi kegagalan pembentukan platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan.

Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita

5. Hipertensi

Bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor, pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat, pembuluh darah kecil akan pecah, sehingga terjadi perdarahan. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor, darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi.
Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah dia mengkonsumsi obat-obat tertentu seperti obat antihipertensi, obat-obat pengencer darah, dan obat-obatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan.

6. Jaundice

Tanda-tandanya adalah ( Archer, 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut bronzed skin, conjuntiva berwarna kekuning-kuningan, membrana mukosa berwarna kuning, juga terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ).

Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan premediksi dahulu dengan vitamin K.

7. AIDS

Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati, sering lesi oral tersebut tidak terpikirkan, karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. Macam-macam manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi virus dan neoplasma.

Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan mulut, maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah.Bila pasien sudah terinfeksi dan memerlukan premedikasi, maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. Tetapi bila belum terinfeksi bisa langsung cabut gigi.

Dengan demikian, apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya, maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada unievrsal). Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan, masker, kacamata, penutup wajah, bahkan juga sepatu. Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV.

8. Sifilis

Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum. Pada penderita sifilis, daya tahan tubuhnya rendah, sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat.

9. Nefritis

Eksodonsi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis, dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan eksodonsi.

10. Malignansi Oral

Di daerah perawatan malignasi suatu rahang melalui radiasi sel jaringan mempunyai aktivitas yang rendah sehingga daya resisten kurang terhadap suatu infeksi. Eksodonsia yang dilakukan di daerah ini banyak yang diikuti osteoradionekrosis rahang ( Archer, 1966 ). Apabila perawatan rad iasi memang terpaksa harus dikerjakan sehubungan dengan malignansi tersebut maka sebaiknya semua gigi pada daerah yang akan terkena radiasi dicabut sebelum dilakukan radiasi. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa semua gigi yang masih ada di daerah itu, dibuang bersih dahulu sebelum penderita menerima radiasi yang berat.

Tujuan utama adalah mencabut gigi-gigi dan melakukan alveolektomi seluruh processus alveolaris sejauh sepertiga dekat apeks lubang alveolus. Mukoperiosteal flap dibuka lebar pada daerah yang akan dikerjakan operasi dan kemudian direfleksikan ke arah lipatan mukobukal atau lipatam labial. Semua tulang labial atau bukal diambil dengan menggunakan chisel dan mallet. Pengambilan tulang tersebut meliputi daerah akar dan interseptal, dan kemudian gigi-gigi dicabut. Dengan memakai bone rongers, chisel, bone burs yang besar , kikir bulat. Semua tulang alveolus yang tinggal dan tulang kortikal bagian lingual diambil dengan meninggalkan sepertiga dari tulang apeks alveolus. Kemudian flaps yang berlebihan digunting agar masing-masing ujung flaps dapat bertemu dengan baik, tanpa terdapat teganagan. Penyembuhan biasanya cepat dan perawatan radiasi dapat dimulai dalam waktu seminggu.

11. Hipersensitivitas

Bagi pasien dengan alergi pada beberapa jenis obat, dapat mengakibatkan shock anafilaksis apabila diberi obat-obatan pemicu alergi tersebut. Oleh karena itu, seorang dokter gigi perlu melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan dan menghindari obat-obatan pemicu alergi.

12. Toxic Goiter

Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor, emosi tidak stabil, tachycardia dan palpitasi , keringat keluar berlebihan, glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada), exophthalmos (bola mata melotot), berat badan susut, rata-rata basal metabolic naik, kenaikan pada tekanan pulsus, gangguan menstruasi (pada wanita), nafsu makan berlebih.

Tindakan bedah mulut, termasuk mencabut gigi, dapat mengakibatkan krisis tiroid, tanda-tandanya yaitu setengah sadar, sangat gelisah ,tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang.

Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut, termasuk tindakan eksodonsi, karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung.

Kontra Indikasi Lokal

Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi.

  1. Infeksi gingival akut

Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau fusospirochetal gingivitis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau streptococcus.

Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah :

a. memiliki OH yg jelek

b. perdarahan pada gusi

c. radang pada gusi

d. sakit

e. nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak)

  1. Infeksi perikoronal akut

Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam (gigi impaksi). Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul sedikit pada permukaan gusi). Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan menyebabkan infeksi. Pada perikoronitis, makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi, pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi, leher, dan rahang. Selain itu, faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di sebelahnya, merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas.

  1. Sinusitis maksilaris akut

Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung, kerongkongan, sinus) mengalami pembengkakan. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus.

Gejala sinusitis akut :

¨ Nyeri, sakit di sekitar wajah

¨ Hidung tersumbat

¨ Kesulitan ketika bernapas melalui hidung

¨ Kurang peka terhadap bau dan rasa

¨ Eritem di sekitar lokasi sinus

¨ Jika menunduk ke depan nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah


  1. Radiasi

Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda respon sistemik, septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah. Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis. Bila pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien.

Tanda-tanda respon sistemik sepsis :

  1. Takhipne (respirasi > 20 kali/menit
  2. Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit)
  3. Hipertermi (suhu badan rektal > 38,3)

Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya, ditunjukkan oleh dua atau lebih keadaan sebagai berikut :
a. Temperatur > 38

b. Denyut jantung > 90 kali /menit

c. Respirasi > 20 kali/menit

d. Jumlah leukosit > 12.000/mm3 atau <>3



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Minggu, 23 Maret 2008
Mastikasi... Pengunyahan

,,,,,, APa saja yang berperan dalam rongga mulut qta waktu lagi makan...pokoknya melakukan suatu pengunyahan...
trus gimana sih mekanisme dari mastikasi itu???


Musculus Mastikasi dan Mekanisme Mastikasi


Musculus Mastikasi
Pembagian keja musculus berdasarkan pergerakannya, yaitu:
Elevasi
Musculus temporalis
Musculus masseter
Musculus Pterygideus intrenus / medialis
Depresi
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus digastricus
Musculus mylohyoid
Protusi
Musculus masseter
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus pterygoideus internus
Retruksi
Musculus temporalis
Musculus masseter
Menggiling dan mengunyah
Musculus temporalis
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus pterygoideus intenus
Musculus masseter


Mekanisme Mastikasi

Mastikasi makanan hanya terjadi pada salah satu lengkung gigi yang mengalami pengunyahan tepat.
Sebagian besar mastikasi dilakukan bertahap dari satu sisi ke sisi lain, dari area Molar dan premolar ke arah regio anterior
Sebagian besar mastikasi diselesaikan di regio molar dan premolar, mandibula membuat gerakan lateral ke kanan dan kiri, berakhir pada posisi sentrik oklusi.
Selama gigi keluar dari relasi kontak, kontak gigi tidak di perlukan, makanan masuk, gigi mengalami kontak lateral pada area yang ditempati makanan di salah satu sisi mulut, dan saat kontak terjadi kontak antar gigi yang memerlukan relasi kontak oklusi pada sisi berlawanan.
Tanpa kontak bilateral, keseimbangan rahang, tekanan, dan kekuatan mastikasi, pada salah satu sisi cenderung menggeser gigi pada sisi kerja dan menghasilkan torsi pada TMJ
Pada saat mulut membuka, reseptor regangan musculus rahang menimbulkan kontraksi reflex musculus masseter, pterygoideus, temporalis.
Pada saat mulut menutup makanan masuk berkontak dengan reseptor bukal sehinga musculus digastricus dan pterygoideus eksternus berkontraksi, mulut membuka.
Timbul gerakan terus-menerus dan frekuensinya akan berkurang bila rangsang berkurang.

Label: , , ,



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)

Judul : Penanganan Hipertrofi Gingiva
Penulis : Dimas Cahya Saputra, SKG
Bagian : Perio
Tahun : 2007

Penanganan hipertrofi gingiva dilakukan dengan gingivektomi, scaling subgingival dan gingivoplasti. Berikut ini akan disajikan beberapa gambar mengenai jalannya operasi. Gambar-gambar ini belum lengkap dan akan segera diperbaiki segera.


Pasien (D) wanita usia 28 tahun, datang ke klinik Periodonsia RSGM Prof.Soedomo dengan keluhan gusi yang bengkak, mudah berdarah dan bernanah. Dilakukan skaling dengan kuret gracey dikombinasi dengan US Scaler. Pasien dikonsulkan kepada periodontis dan diputuskan untuk dilakukan operasi. Satu jam sebelumya pasien diberi premedikasi dengan antibiotik dan antiinflamasi.


Setelah dilakukan anestesi lokal infiltrasi (2 ampul lidocain), dilakukan eksisi pada gingiva yang hipertrofi. Sebelum dilakukan eksisi dilakukan penentuan batas eksisi dengan menggunakan pocket marker.






Setelah dilakukan eksisi tampak secara estetik dapat terkoreksi. Pada gambar dilakukan gingivoplasti dengan menggunakan electro surgery. Sebelum dilakuksn gingivoplasti dilakukan skaling subgingival yntuk memastikan kebersihan dari sisa kalkulus yang mungkin masih tersisa.


Gingivoplasti.


Setelah prosedur gingivoplasti selesai luka dibersihkan kemudian ditutup dengan coe-pack. Pasien diinstruksikan untuk tidak makan dan minum panas selama minimal 12 jam, tidak diperkenankan untuk menyentuh luka baik dengan tangan maupun dengan lidah dan obet diteruskan sampai habis kecuali analgesik. Pasien diinstruksikan untuk kontrol seminggu kemudian.



Untuk yang ingin lebih mengetahui bisa buka www.dentisia.com

Label: ,



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Sabtu, 22 Maret 2008
Sedikit tentang eksodonsi

Ini ku kutip dari catatan kuliah si joe...
Untuk teman-teman seperjuangan di kelompok 5 BM..
smoga jawaban yang sedikit bisa berguna

CATATAN KULIAH SI JOE

Cabut gigi, why not?


Salah satu hal yang sangat umum sekali dikenal orang tentang 'dokter gigi'
adalah 'mencabut gigi'. Padahal notabene profesi dokter gigi tidak hanya selepas mencabut gigi. Maklumlah, bidang kedokteran gigi sekarang ini luas sekali cakupannya terlepas dari 7 bidang kedokteran gigi.

Ok, saya ngga akan membahas masalah bidang kedokteran gigi yang lain. Saya ingin sedikit membahas tentang proses pencabutan gigi, baik dari segi indikasi dan kontra indikasinya, alat-alat yang digunakan, tehnik, dan prosedur yang umum dilakukan. Sudah banyak sebenarnya literatur yang mungkin bisa memberikan penjelasan lebih detil tentang pencabutan gigi, apa yang saya jelaskan mungkin berdasarkan pengalaman 'mencabut gigi' beberapa pasien saya.

Apa sih sebenarnya 'mencabut gigi' itu?
Mencabut gigi merupakan proses pembedahan yang prosedurnya memiliki standar
prosedur pada pembedahan atau operasi dengan tujuan adalah mencabut gigi-geligi dari tulang alveolar pada rahang manusia.

Alasan pasien datang ingin di'cabut gigi'-nya?
Mengenai alasan pasien tentunya ini disesuaikan dengan indikasi bahwa 'mencabut gigi' memang perlu dilakukan untuk kebaikan pasien tentunya.

Beberapa Indikasi pencabutan gigi :
1. Gigi dengan supernumerary, maksudnya gigi yang berlebih yg tumbuh secara
tidak normal.
2. Gigi persistensi, gigi sulung yang tidak tanggal pada waktunya, sehingga
menyebabkan gigi tetap terhambat pertumbuhannya.
3. Gigi yang menyebabkan fokal infeksi, maksudnya dengan keberadaan gigi yang tidak sehat dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia.
4. Gigi yang tidak dapat dirawat secara endodontik/restorasi, gigi yang tidak bisa lagi dirawat misalnya; tambal, perawatan saluran akar.
5. Gigi dengan fraktur/patah pada akar krena trauma misalnya jatuh, kondisi ini jelas akan membuat rasa sakit berkelanjutan pada penderita hingga gigi tersebut menjadi non vital atau mati.
6. Gigi dengan sisa akar, sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya jaringan ikat seperti pembuluh darah, kondisi ini membuat akar gigi tidak vital.
7. Gigi dengan fraktur/patah pada bagian tulang alveolar ataupun pada garis fraktur tulang alveolar, kondisi ini sama dengan gigi pada fraktur pada akar.
8. Untuk keperluan perawatan ortodontik ataupun prostodontik, biasanya hal ini merupakan perawatan konsul dari bagian ortodontik dengan mempertimbangkan pencabutan gigi untuk mendapatkan ruangan yang dibutuhkan dalam perawatannya.
9. Dan biasanya yang terakhir adalah keinginan pasien untuk dicabut giginya, dengan pertimbangan 'langsung' menghilangkan keluhan sakit giginya, walaupun gigi tersebut masih dirawat secara utuh.

Bila ada indikasi maka ada juga kontra indikasi. Kontra indikasi pencabutan
gigi didasarkan beberapa faktor, yang utama faktor lokal dan sistemik.

Faktor lokal:
1. Gigi dengan kondisi abses, maksudnya adanya pus atau nanah pada bagian ujung akar gigi, biasanya ditandai dengan rasa sakit yang hebat, bengkak, suhu meningkat. Tidak bisa dicabut karena proses pencabutan memiliki prosedur anestesi, nah saat dilakukan anestesi obat anestesi tidak akan bisa membuat jaringan yang di anestesi menjadi baal.
2. Adanya suspect keganasan bila dilakukan pencabutan, kondisi ini biasanya pada penderita yang didiagnosa adanya gejala-gejala kanker pada rongga mulut khususnya sekitar jaringan gigi.
3. Pasien dengan perawatan radioterapi, tidak bisa dilakukan pencabutan, dikarenakan dikhawatirkan terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi.

Faktor sistemik: merupakan faktor2 yang sebenarnya perlu pertimbangan khusus untuk dilakukan pencabutan gigi. Bukan kontraindikasi mutlak dari pencabutan gigi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut pencabutan bisa dilakukan dengan syarat penyakit yang menyertainya bisa dikontrol untuk menghindari terjadinya komplikasi saat sebelum pencabutan, saat pencabutan, ataupun setelah pencabutan gigi.

Label:



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)