Kamis, 27 Maret 2008
Kontra Indikasi pada eksodonsi

KONTRA INDIKASI EKSODONSI

Pendahuluan

Untuk mendukung diagnosa yang benar dan tepat serta menyusun rencana perawatan yang tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan, maka sebelum dilakukan tindakan eksodonsi atau tindakan bedah lainnya harus dipersiapkan dahulu suatu pemeriksaan yang teliti dan lengkap. Yaitu dengan pertanyaan adakah kontra indikasi eksodonsi atau tindakan bedah lainnya yang disebabkan oleh faktor lokal atau sistemik.

Kontra indikasi eksodonsi akan berlaku sampai dokter spesialis akan memberi ijin atau menanti keadaan umum penderita dapat menerima suatu tindakan bedah tanpa menyebabkan komplikasi yang membahayakan bagi jiwa penderita.

Kontra Indikasi Sistemik

Pasien dengan kontra indikasi yang bersifat sistemik memerlukan pertimbangan khusus untuk dilakukan eksodonsi. Bukan kontra indikasi mutlak dari eksodonsi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut, eksodonsi bisa dilakukan dengan persyaratan bahwa pasien sudah berada dalam pengawasan dokter ahli dan penyakit yang menyertainya bisa dikontrol dengan baik. Hal tersebut penting untuk menghindari terjadinya komplikasi sebelum pencabutan, saat pencabutan, maupun setelah pencabutan gigi.

1. Diabetes Mellitus

Malfungsi utama dari diabetes melitus adalah penurunan absolute atau relative kadar insulin yang mengakibatkan kegagalan metabolisme glukosa. Penderita diabetes melitus digolongkan menjadi:

1. Diabetes Melitus ketergantungan insulin (IDDM, tipe 1, juvenile,ketotik, britlle).

Terjadi setelah infeksi virus dan produksi antibodi autoimun pada orang yang predisposisi antigen HLA. Biasanya terjadi pada pasien yang berumur di bawah 40 tahun.

2. Diabetes Melitus tidak tergantung insulin (NDDM, tipe 2, diabetes dewasa stabil).

Diturunkan melalui gen dominan dan biasanya dikaitkan dengan kegemukan. Lebih sering terjadi pada umur di atas 40 tahun.

Pembedahan dentoalveolar yang dilakukan pada pasien diabetes tipe 2 dengan menggunakan anestesi local biasanya tidak memerlukan tambahan insulin atau hipoglikemik oral. Pasien diabetes tipe 1 yang terkontrol harus mendapat pemberian insulin seperti biasanya sebelum dilakukan pembedahan; dan makan karbohidrat dalam jumlah yang cukup. Perawatan yang terbaik untuk pasien ini adalah pagi hari sesudah makan pagi. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik, yang sering disebabkan oleh karena sulit mendapatkan insulin, harus dijadikan terkontorl lebih dahulu sebelum dilakukan pembedahan. Ini biasanya memerlukan rujukan dan kemungkinan pasien harus rawat inap.

Diabetes dan Infeksi

Diabetes yang terkontrol dengan baik tidak memerlukan terapi antibiotik profilaktik untuk pembedahan rongga mulut. Pasien dengan diabetes yang tidak terkontrol akan mengalami penyembuhan lebih lambat dan cenderung mengalami infeksi, sehingga memerlukan pemberian antibiotik profilaksis. Responnya terhadap infeksi tersebut diduga keras akibat defisiensi leukosit polimorfonuklear dan menurunnya atau terganggunya fagositosis, diapedisis, dan khemotaksis karena hiperglikemi. Sebaliknya, infeksi orofasial menyebabkan kendala dalam pengaturan dan pengontrolan diabetes, misalnya meningkatnya kebutuhan insulin. Pasien dengan riwayat kehilangan berat badan yang penyebabnya tidak diketahui, yang terjadi bersamaan dengan kegagalan penyembuhan infeksi dengan terapi yang biasa dilakukan, bisa dicurigai menderita diabetes.

Keadaan Darurat pada Diabetes

Diabetes kedaruratan, syok insulin (hipoglikemia), dan ketoasidosis (hiperglikemia) lebih sering terjadi pada diabetes tipe 1. Kejadian yang sering terlihat adalah hipoglikemia, yang dapat timbul sangat cepat apabila terjadi kegagalan menutupi kebutuhan akan insulin dengan asupan karbohidrat yang cukup. Sedangkan ketoasidosis biasanya berkembang setelah beberapa hari. Pasien yang menderita hipoglikemia menunjukkan tanda-tanda pucat, berkeringat, tremor, gelisah, dan lemah. Dengan pemberian glukosa secara oral (10-20 gram), kondisi tersebut akan dengan mudah membaik. Kegagalan untuk merawat kondisi ini akan mengakibatkan kekejangan, koma, dan mungkin menyebabkan kematian. Untuk mengatasi ketoasidosis diperlukan pemberian insulin dan cairan. Hal tersebut sebaiknya dilakukan di rumah sakit (pasien rawat inap).

2. Kehamilan

Pregnancy bukan kontraindikasi terhadap pembersihan kalkulus ataupun ekstraksi gigi, karena tidak ada hubungan antara pregnancy dengan pembekuan darah. Perdarahan pada gusi mungkin merupakan manifestasi dari pregnancy gingivitis yang disebabkan pergolakan hormon selama pregnancy.

Yang perlu diwaspadai adalah sering terjadinya kondisi hipertensi dan diabetes mellitus yang meskipun sifatnya hanya temporer, akan lenyap setelah melahirkan, namun cukup dapat menimbulkan masalah saat dilakukan tindakan perawatan gigi yang melibatkan perusakan jaringan dan pembuluh darah. Jadi, bila ada pasien dalam keadaan pregnant bermaksud untuk scaling kalkulus atau ekstraksi, sebaiknya di-refer dulu untuk pemeriksaan darah lengkap, laju endap darah, dan kadar gula darahnya. Jangan lupa sebelum dilakukan tindakan apapun, pasien dilakukan tensi dulu.

Kalau memang ada gigi yang perlu diekstraksi (dimana hal itu tidak bisa dihindari lagi, pencabutan gigi (dan juga tindakan surgery akut lainnya seperti abses,dll) bukanlah suatu kontraindikasi waktu hamil. Hati-hati bila pada 3 bulan pertama. rontgen harus dihindari saja kecuali kasus akut (politrauma, fraktur ,dll). Hati-hati bila menggunakan obat bius dan antibiotic, (ada daftarnya mana yang boleh dan mana yang tidak boleh (FDA) sedative (nitrous oxide, dormicum itu tidak dianjurkan). Kalau memang harus dicabut giginya atau scalling pada ibu hamil, waspada dengan posisi tidurnya jangan terlalu baring, karena bisa bikin kompresi vena cafa inferior.

Kalau memang riskan, dan perawatan gigi-mulut tidak dapat ditunda sampai post-partus, maka sebaiknya tindakan dilakukan di kamar operasi dengan bekerja sama dengan tim code blue, atau tim resusitasi. Ekstraksi gigi pada pasien hamil yang ’sehat’ bisa dilakukan dengan baik dan aman di praktek, clinic biasa, atau rumah sakit.

Kesulitan yang sering timbul pada ekstraksi gigi pada ibu hamil adalah keadaan psikologisnya yang biasanya tegang, dll. Seandainya status umum pasien yang kurang jelas sebaiknya di konsulkan dulu ke dokter obsgin-nya.

3. Penyakit Kardiovaskuler

Sebelum menangani pasien ketika berada di klinik, kita memang harus mengetahui riwayat kesehatan pasien baik melalui rekam medisnya atau wawancara langsung dengan pasien. Jika ditemukan pasien dengan tanda-tanda sesak napas, kelelahan kronis, palpitasi, sukar tidur dan vertigo maka perlu dicurigai bahwa pasien tersebut menderita penyakit jantung. Oleh karena itu, diperlukan pemeriksaan lanjut yang teliti dan akurat, misalnya pemeriksaan tekanan darah. Hal ini dimaksudkan untuk mendukung diagnosa sehingga kita dapat menyusun rencana perawatan yang tepat dan tidak menimbulkan akibat yang tidak diinginkan.

Pada penyakit kardiovaskuler, denyut nadi pasien meningkat, tekanan darah pasien naik menyebabkan bekuan darah yang sudah terbentuk terdorong sehingga terjadi perdarahan.

Pasien dengan penyakit jantung termasuk kontra indikasi eksodonsi. Kontra indikasi eksodonsi di sini bukan berarti kita tidak boleh melakukan tindakan eksodonsi pada pasien ini, namun dalam penangannannya perlu konsultasi pada para ahli, dalam hal ini dokter spesialis jantung. Dengan berkonsultasi, kita bisa mendapatkan rekomendasi atau izin dari dokter spesialis mengenai waktu yang tepat bagi pasien untuk menerima tindakan eksodonsi tanpa terjadi komplikasi yang membahayakan bagi jiwa pasien serta tindakan pendamping yang diperlukan sebelum atau sesudah dilakukan eksodonsi, misalnya saja penderita jantung rema harus diberi penicillin sebelum dan sesudah eksodonsi dilakukan.

4. Kelainan Darah

a. Purpura hemoragik

Pada pasien dengan keadaan scurvy lanjut maka perdarahan ke dan dari dalam gusi merupakan keadaan yang biasa terjadi. Hal ini disebabkan karena fragilitas kapiler (daya tahan kapiler abnormal terhadap rupture) pada pasien tersebut dalam keadaan kurang, sehingga menuju kearah keadaan mudah terjadi pendarahan petechie dan ecchimosis.

Perlu ditanyakan kepada pasien tentang riwayat perdarahan pasca eksodonsia, atau pengalaman pendarahan lain. Selanjutnya diteruskan pada pemerikasaan darah yaitu waktu pendarahan dan waktu penjedalan darah, juga konsentrasi protrombin.

b. Lekemia

Pada lekemia terjadi perubahan proliferasi dan perkembangan leukosit dan prekursornya dalam darah dan sumsum tulang. Sehingga mudah infeksi dan terjadi perdarahan.

b.1. Lekemia Limfatika

Tanda2 :

badan mkn lelah dan lemah

tanda2 anemia à pucat, jantung berdesir, tknn drh rendah

limfonodi membesr dsluruh tbh

gusi berdarah

petechyae

perdarahan pasca eksodonsia

batuk2

pruritus

pemeriksaan darah menunjukkan ada anemia tipe sekunder

b.2. Lekemia Mielogenous

Kek. Tbh penderita bkrg

bb berkurang

tanda2 anemia

pembesaran limfa

perut terasa kembung & mual

demam

gangguan gastro intestinal

gatal2 pada kulit

perdrahan pd bbgai bag tbh

gangguan penglihatan / perdarahan krn infiltrais leukemik

perbesaran lien

perdarahan petechyae

perdrahan gusi

rasa berat di daerah sternum

c. Anemia

Ciri-ciri anemia yaitu rendahnya jumlah hemoglobin dalam darah sehingga kemampuan darah untuk mengangkut oksigen menjadi berkurang. Selain itu, penderita anemia memiliki kecenderungan adanya kerusakan mekanisme pertahanan seluler.

d. Hemofilia

Setelah tindakan ekstraksi gigi yang menimbulkan trauma pada pembuluh darah, hemostasis primer yang terjadi adalah pembentukan platelet plug (gumpalan darah) yang meliputi luka, disebabkan karena adanya interaksi antara trombosit, faktor-faktor koagulasi dan dinding pembuluh darah. Selain itu juga ada vasokonstriksi pembuluh darah. Luka ekstraksi juga memicu clotting cascade dengan aktivasi thromboplastin, konversi dari prothrombin menjadi thrombin, dan akhirnya membentuk deposisi fibrin.

Pada pasien hemofilli A (hemofilli klasik) ditemukan defisiensi factor VIII. Pada hemofilli B (penyakit Christmas) terdapat defisiensi faktor IX. Sedangkan pada von Willebrand’s disease terjadi kegagalan pembentukan platelet, tetapi penyakit ini jarang ditemukan.

Agar tidak terjadi komplikasi pasca eksodonsia perlu ditanyakan adakah kelainan perdarahan seperti waktu perdarahan dan waktu penjendalan darah yg tdk normal pada penderita

5. Hipertensi

Bila anestesi lokal yang kita gunakan mengandung vasokonstriktor, pembuluh darah akan menyempit menyebabkan tekanan darah meningkat, pembuluh darah kecil akan pecah, sehingga terjadi perdarahan. Apabila kita menggunakan anestesi lokal yang tidak mengandung vasokonstriktor, darah dapat tetap mengalir sehingga terjadi perdarahan pasca ekstraksi.
Penting juga ditanyakan kepada pasien apakah dia mengkonsumsi obat-obat tertentu seperti obat antihipertensi, obat-obat pengencer darah, dan obat-obatan lain karena juga dapat menyebabkan perdarahan.

6. Jaundice

Tanda-tandanya adalah ( Archer, 1961 ) ialah kulit berwarna kekuning-kuningan disebut bronzed skin, conjuntiva berwarna kekuning-kuningan, membrana mukosa berwarna kuning, juga terlihat pada cairan tubuh ( bila pigmen yang menyebabakan warna menjadi kuning ).

Tindakan eksodonsi pada penderita ini dapat menyebabkan “prolonged hemorrahage” yaitu perdarahan yang terjadi berlangsung lama sehingga bila penderita akan menerima pencabutan gigi sebaiknya dikirimkan dulu kepada dokter ahli yang merawatnya atau sebelum eksodonsi lakukan premediksi dahulu dengan vitamin K.

7. AIDS

Lesi oral sering muncul sebagai tanda awal infeksi HIV. Tanpa pemeriksaan secara hati-hati, sering lesi oral tersebut tidak terpikirkan, karena lesi oral sering tidak terasa nyeri. Macam-macam manifestasi infeksi HIV pada oral dapat berupa infeksi jamur, infeksi bakteri, infeksi virus dan neoplasma.

Pada penderita AIDS terjadi penghancuran limfosit sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi berkurang. Pada tindakan eksodonsi dimana tindakan tersebut melakukan perlukaan pada jaringan mulut, maka akan lebih mudah mengalami infeksi yang lebih parah.Bila pasien sudah terinfeksi dan memerlukan premedikasi, maka upayakan untuk mendapatkan perawatan medis dulu. Tetapi bila belum terinfeksi bisa langsung cabut gigi.

Dengan demikian, apabila dokter gigi sudah menemui gejala penyakit mematikan ini pada pasiennya, maka dokter bisa langsung memperoteksi diri sesuai standar universal precautaion (waspada unievrsal). Perlindungan ini bisa memakai sarung tangan, masker, kacamata, penutup wajah, bahkan juga sepatu. Karena hingga kini belum ditemukan vaksin HIV.

8. Sifilis

Sifilis adalah penyakit infeksi yang diakibatkan Treponema pallidum. Pada penderita sifilis, daya tahan tubuhnya rendah, sehingga mudah terjadi infeksi sehingga penyembuhan luka terhambat.

9. Nefritis

Eksodonsi yang meliputi beberapa gigi pada penderita nefritis, dapat berakibat keadaan nefritis bertambah buruk. Sebaiknya penderita nefritis berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter ahli sebelum melakukan eksodonsi.

10. Malignansi Oral

Di daerah perawatan malignasi suatu rahang melalui radiasi sel jaringan mempunyai aktivitas yang rendah sehingga daya resisten kurang terhadap suatu infeksi. Eksodonsia yang dilakukan di daerah ini banyak yang diikuti osteoradionekrosis rahang ( Archer, 1966 ). Apabila perawatan rad iasi memang terpaksa harus dikerjakan sehubungan dengan malignansi tersebut maka sebaiknya semua gigi pada daerah yang akan terkena radiasi dicabut sebelum dilakukan radiasi. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa semua gigi yang masih ada di daerah itu, dibuang bersih dahulu sebelum penderita menerima radiasi yang berat.

Tujuan utama adalah mencabut gigi-gigi dan melakukan alveolektomi seluruh processus alveolaris sejauh sepertiga dekat apeks lubang alveolus. Mukoperiosteal flap dibuka lebar pada daerah yang akan dikerjakan operasi dan kemudian direfleksikan ke arah lipatan mukobukal atau lipatam labial. Semua tulang labial atau bukal diambil dengan menggunakan chisel dan mallet. Pengambilan tulang tersebut meliputi daerah akar dan interseptal, dan kemudian gigi-gigi dicabut. Dengan memakai bone rongers, chisel, bone burs yang besar , kikir bulat. Semua tulang alveolus yang tinggal dan tulang kortikal bagian lingual diambil dengan meninggalkan sepertiga dari tulang apeks alveolus. Kemudian flaps yang berlebihan digunting agar masing-masing ujung flaps dapat bertemu dengan baik, tanpa terdapat teganagan. Penyembuhan biasanya cepat dan perawatan radiasi dapat dimulai dalam waktu seminggu.

11. Hipersensitivitas

Bagi pasien dengan alergi pada beberapa jenis obat, dapat mengakibatkan shock anafilaksis apabila diberi obat-obatan pemicu alergi tersebut. Oleh karena itu, seorang dokter gigi perlu melakukan anamnesis untuk mengetahui riwayat kesehatan dan menghindari obat-obatan pemicu alergi.

12. Toxic Goiter

Ciri-ciri pasien tersebut adalah tremor, emosi tidak stabil, tachycardia dan palpitasi , keringat keluar berlebihan, glandula tiroidea membesar secara difus (kadang tidak ada), exophthalmos (bola mata melotot), berat badan susut, rata-rata basal metabolic naik, kenaikan pada tekanan pulsus, gangguan menstruasi (pada wanita), nafsu makan berlebih.

Tindakan bedah mulut, termasuk mencabut gigi, dapat mengakibatkan krisis tiroid, tanda-tandanya yaitu setengah sadar, sangat gelisah ,tidak terkontrol meskipun telah diberi obat penenang.

Pada penderita toxic goiter jangan dilakukan tindakan bedah mulut, termasuk tindakan eksodonsi, karena dapat menyababkan krisis tiroid dan kegagalan jantung.

Kontra Indikasi Lokal

Kontraindikasi eksodonsi yang bersifat setempat umumnya menyangkut suatu infeksi akut jaringan di sekitar gigi.

  1. Infeksi gingival akut

Infeksi gingival akut biasa juga disebut dengan acute necrotizing ulcerative gingivitis (ANUG) atau fusospirochetal gingivitis. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri fusospirochaetal atau streptococcus.

Ciri-ciri penderita infeksi gingival akut adalah :

a. memiliki OH yg jelek

b. perdarahan pada gusi

c. radang pada gusi

d. sakit

e. nafas tidak sedap (adanya akumulasi plak)

  1. Infeksi perikoronal akut

Merupakan infeksi yang terjadi pada jaringan lunak di sekitar mahkota gigi molar yang terpendam (gigi impaksi). Perikoronitis dapat terjadi ketika gigi molar 3 bererupsi sebagian (hanya muncul sedikit pada permukaan gusi). Keadaan ini menyebabkan bakteri dapat masuk ke sekitar gigi dan menyebabkan infeksi. Pada perikoronitis, makanan / plak dapat tersangkut di bawah flap gusi di sekitar gigi sehingga dapat mengiritasi gusi, pembengkakan dan infeksi dapat meluas di sekitar pipi, leher, dan rahang. Selain itu, faktor-faktor yang juga menyebabkan infeksi adalah trauma dari gigi di sebelahnya, merokok dan infeksi saluran pernapasan bagian atas.

  1. Sinusitis maksilaris akut

Sinus adalah rongga berisi udara yang terdapat di sekitar rongga hidung. Sinusitis (infeksi sinus) terjadi jika membran mukosa saluran pernapasan atas (hidung, kerongkongan, sinus) mengalami pembengkakan. Pembengkakan tersebut menyumbat saluran sinus yang bermuara ke rongga hidung. Akibatnya cairan mukus tidak dapat keluar secara normal. Menumpuknya mukus di dalam sinus menjadi faktor yang mendorong terjadinya infeksi sinus.

Gejala sinusitis akut :

¨ Nyeri, sakit di sekitar wajah

¨ Hidung tersumbat

¨ Kesulitan ketika bernapas melalui hidung

¨ Kurang peka terhadap bau dan rasa

¨ Eritem di sekitar lokasi sinus

¨ Jika menunduk ke depan nyeri berdenyut akan terasa di sekitar wajah


  1. Radiasi

Alasan melarang eksodonsi dengan keadaan seperti tersebut diatas adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi, akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia. Septikemia adalah suatu keadaan klinis yang disebabkan oleh infeksi dengan tanda-tanda respon sistemik, septikimia juga biasa diartikan dengan infeksi berat pada darah. Infeksi dalam rongga mulut bila tidak ditangani secara adekuat dapat menjadi suatu induksi untuk terjadinya sepsis. Bila pasien telah mengalami sepsis dan tidak segera ditangani maka keadaan sepsis ini akan berlanjut menjadi syok septic dan dapat mengakibatkan kematian pasien.

Tanda-tanda respon sistemik sepsis :

  1. Takhipne (respirasi > 20 kali/menit
  2. Takhikardi (denyut nadi > 90 kali/menit)
  3. Hipertermi (suhu badan rektal > 38,3)

Sedangkan syok septik adalah suatu sindroma klinik yang disebabkan oleh tidak cukupnya perfusi jaringan dan adanya hipoksia jaringan yang disebabkan oleh sepsis. Keadaan diatas kadangkala disebut juga Sindroma Respon Inflamasi Sistemik (Systemic Inflammatory Response Syndrome = SIRS) yaitu suatu respon inflamasi sistemik yang bervariasi bentuk kliniknya, ditunjukkan oleh dua atau lebih keadaan sebagai berikut :
a. Temperatur > 38

b. Denyut jantung > 90 kali /menit

c. Respirasi > 20 kali/menit

d. Jumlah leukosit > 12.000/mm3 atau <>3



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Minggu, 23 Maret 2008
Mastikasi... Pengunyahan

,,,,,, APa saja yang berperan dalam rongga mulut qta waktu lagi makan...pokoknya melakukan suatu pengunyahan...
trus gimana sih mekanisme dari mastikasi itu???


Musculus Mastikasi dan Mekanisme Mastikasi


Musculus Mastikasi
Pembagian keja musculus berdasarkan pergerakannya, yaitu:
Elevasi
Musculus temporalis
Musculus masseter
Musculus Pterygideus intrenus / medialis
Depresi
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus digastricus
Musculus mylohyoid
Protusi
Musculus masseter
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus pterygoideus internus
Retruksi
Musculus temporalis
Musculus masseter
Menggiling dan mengunyah
Musculus temporalis
Musculus pterygoideus eksternus
Musculus pterygoideus intenus
Musculus masseter


Mekanisme Mastikasi

Mastikasi makanan hanya terjadi pada salah satu lengkung gigi yang mengalami pengunyahan tepat.
Sebagian besar mastikasi dilakukan bertahap dari satu sisi ke sisi lain, dari area Molar dan premolar ke arah regio anterior
Sebagian besar mastikasi diselesaikan di regio molar dan premolar, mandibula membuat gerakan lateral ke kanan dan kiri, berakhir pada posisi sentrik oklusi.
Selama gigi keluar dari relasi kontak, kontak gigi tidak di perlukan, makanan masuk, gigi mengalami kontak lateral pada area yang ditempati makanan di salah satu sisi mulut, dan saat kontak terjadi kontak antar gigi yang memerlukan relasi kontak oklusi pada sisi berlawanan.
Tanpa kontak bilateral, keseimbangan rahang, tekanan, dan kekuatan mastikasi, pada salah satu sisi cenderung menggeser gigi pada sisi kerja dan menghasilkan torsi pada TMJ
Pada saat mulut membuka, reseptor regangan musculus rahang menimbulkan kontraksi reflex musculus masseter, pterygoideus, temporalis.
Pada saat mulut menutup makanan masuk berkontak dengan reseptor bukal sehinga musculus digastricus dan pterygoideus eksternus berkontraksi, mulut membuka.
Timbul gerakan terus-menerus dan frekuensinya akan berkurang bila rangsang berkurang.

Label: , , ,



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)

Judul : Penanganan Hipertrofi Gingiva
Penulis : Dimas Cahya Saputra, SKG
Bagian : Perio
Tahun : 2007

Penanganan hipertrofi gingiva dilakukan dengan gingivektomi, scaling subgingival dan gingivoplasti. Berikut ini akan disajikan beberapa gambar mengenai jalannya operasi. Gambar-gambar ini belum lengkap dan akan segera diperbaiki segera.


Pasien (D) wanita usia 28 tahun, datang ke klinik Periodonsia RSGM Prof.Soedomo dengan keluhan gusi yang bengkak, mudah berdarah dan bernanah. Dilakukan skaling dengan kuret gracey dikombinasi dengan US Scaler. Pasien dikonsulkan kepada periodontis dan diputuskan untuk dilakukan operasi. Satu jam sebelumya pasien diberi premedikasi dengan antibiotik dan antiinflamasi.


Setelah dilakukan anestesi lokal infiltrasi (2 ampul lidocain), dilakukan eksisi pada gingiva yang hipertrofi. Sebelum dilakukan eksisi dilakukan penentuan batas eksisi dengan menggunakan pocket marker.






Setelah dilakukan eksisi tampak secara estetik dapat terkoreksi. Pada gambar dilakukan gingivoplasti dengan menggunakan electro surgery. Sebelum dilakuksn gingivoplasti dilakukan skaling subgingival yntuk memastikan kebersihan dari sisa kalkulus yang mungkin masih tersisa.


Gingivoplasti.


Setelah prosedur gingivoplasti selesai luka dibersihkan kemudian ditutup dengan coe-pack. Pasien diinstruksikan untuk tidak makan dan minum panas selama minimal 12 jam, tidak diperkenankan untuk menyentuh luka baik dengan tangan maupun dengan lidah dan obet diteruskan sampai habis kecuali analgesik. Pasien diinstruksikan untuk kontrol seminggu kemudian.



Untuk yang ingin lebih mengetahui bisa buka www.dentisia.com

Label: ,



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)
Sabtu, 22 Maret 2008
Sedikit tentang eksodonsi

Ini ku kutip dari catatan kuliah si joe...
Untuk teman-teman seperjuangan di kelompok 5 BM..
smoga jawaban yang sedikit bisa berguna

CATATAN KULIAH SI JOE

Cabut gigi, why not?


Salah satu hal yang sangat umum sekali dikenal orang tentang 'dokter gigi'
adalah 'mencabut gigi'. Padahal notabene profesi dokter gigi tidak hanya selepas mencabut gigi. Maklumlah, bidang kedokteran gigi sekarang ini luas sekali cakupannya terlepas dari 7 bidang kedokteran gigi.

Ok, saya ngga akan membahas masalah bidang kedokteran gigi yang lain. Saya ingin sedikit membahas tentang proses pencabutan gigi, baik dari segi indikasi dan kontra indikasinya, alat-alat yang digunakan, tehnik, dan prosedur yang umum dilakukan. Sudah banyak sebenarnya literatur yang mungkin bisa memberikan penjelasan lebih detil tentang pencabutan gigi, apa yang saya jelaskan mungkin berdasarkan pengalaman 'mencabut gigi' beberapa pasien saya.

Apa sih sebenarnya 'mencabut gigi' itu?
Mencabut gigi merupakan proses pembedahan yang prosedurnya memiliki standar
prosedur pada pembedahan atau operasi dengan tujuan adalah mencabut gigi-geligi dari tulang alveolar pada rahang manusia.

Alasan pasien datang ingin di'cabut gigi'-nya?
Mengenai alasan pasien tentunya ini disesuaikan dengan indikasi bahwa 'mencabut gigi' memang perlu dilakukan untuk kebaikan pasien tentunya.

Beberapa Indikasi pencabutan gigi :
1. Gigi dengan supernumerary, maksudnya gigi yang berlebih yg tumbuh secara
tidak normal.
2. Gigi persistensi, gigi sulung yang tidak tanggal pada waktunya, sehingga
menyebabkan gigi tetap terhambat pertumbuhannya.
3. Gigi yang menyebabkan fokal infeksi, maksudnya dengan keberadaan gigi yang tidak sehat dapat menyebabkan infeksi pada tubuh manusia.
4. Gigi yang tidak dapat dirawat secara endodontik/restorasi, gigi yang tidak bisa lagi dirawat misalnya; tambal, perawatan saluran akar.
5. Gigi dengan fraktur/patah pada akar krena trauma misalnya jatuh, kondisi ini jelas akan membuat rasa sakit berkelanjutan pada penderita hingga gigi tersebut menjadi non vital atau mati.
6. Gigi dengan sisa akar, sisa akar akan menjadi patologis karena hilangnya jaringan ikat seperti pembuluh darah, kondisi ini membuat akar gigi tidak vital.
7. Gigi dengan fraktur/patah pada bagian tulang alveolar ataupun pada garis fraktur tulang alveolar, kondisi ini sama dengan gigi pada fraktur pada akar.
8. Untuk keperluan perawatan ortodontik ataupun prostodontik, biasanya hal ini merupakan perawatan konsul dari bagian ortodontik dengan mempertimbangkan pencabutan gigi untuk mendapatkan ruangan yang dibutuhkan dalam perawatannya.
9. Dan biasanya yang terakhir adalah keinginan pasien untuk dicabut giginya, dengan pertimbangan 'langsung' menghilangkan keluhan sakit giginya, walaupun gigi tersebut masih dirawat secara utuh.

Bila ada indikasi maka ada juga kontra indikasi. Kontra indikasi pencabutan
gigi didasarkan beberapa faktor, yang utama faktor lokal dan sistemik.

Faktor lokal:
1. Gigi dengan kondisi abses, maksudnya adanya pus atau nanah pada bagian ujung akar gigi, biasanya ditandai dengan rasa sakit yang hebat, bengkak, suhu meningkat. Tidak bisa dicabut karena proses pencabutan memiliki prosedur anestesi, nah saat dilakukan anestesi obat anestesi tidak akan bisa membuat jaringan yang di anestesi menjadi baal.
2. Adanya suspect keganasan bila dilakukan pencabutan, kondisi ini biasanya pada penderita yang didiagnosa adanya gejala-gejala kanker pada rongga mulut khususnya sekitar jaringan gigi.
3. Pasien dengan perawatan radioterapi, tidak bisa dilakukan pencabutan, dikarenakan dikhawatirkan terjadinya komplikasi pasca pencabutan gigi.

Faktor sistemik: merupakan faktor2 yang sebenarnya perlu pertimbangan khusus untuk dilakukan pencabutan gigi. Bukan kontraindikasi mutlak dari pencabutan gigi. Faktor-faktor ini meliputi pasien-pasien yang memiliki riwayat penyakit khusus. Dengan kondisi riwayat penyakit tersebut pencabutan bisa dilakukan dengan syarat penyakit yang menyertainya bisa dikontrol untuk menghindari terjadinya komplikasi saat sebelum pencabutan, saat pencabutan, ataupun setelah pencabutan gigi.

Label:



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)

Uh....

lagi pusing banget nyari bahan wat presentasi Bedah Mulut besok Rabu, 26 maret 2008

Aq butuh bahan mengenai kontra indikasi eksodonsi lokal.
Sampai saat ini yang sudah aku tahu adalah:

Jika adanya infeksi akut dalam rongga mulut, yaitu:
1. Infeksi gingiva akut yang disebabkan oleh infeksi fusospirocahetal atau streptococcus.
(bagaimana jika penyebabnya berbeda????apakah tetap merupakan kontra indikasi??)

2.
Infeksi perikoronal akut yang banyak terjadi pada erupsi partial M3 rahang bawah.

3. Sinusitis maksilaris akut, terutama yang menyangkut kontra-indikasi eksodonsia premolar dan molar maksila.

Alasan melarang dalam kondisi akut adalah bahwa infeksi akut yang berada di sekitar gigi akan menyebar melalui aliran darah ke seluruh tubuh dan terjadi keadaan septikemia.

Semua penyebab kontra indikasi di atas adalah infeksi akut. bagaimana dengan yang kronis???
apakah tidak merupakan kontra indikasi?


0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)

Penyakit Koronari Jantung
Oleh : Mohamed Yosri Mohamed Yong

Penyakit yang berkenaan jantung dikenali sebagai penyakit kardiovascular. Penyakit kardiovascular merupakan punca utama kesakitan dan kematian yang disahkan oleh doktor di Malaysia. Pada tahun 1988, 29.4% dari angka kematian yang disahkan oleh doktor di Semenanjung Malaysia adalah disebabkan oleh penyakit kardiovascular.

Di antara tahun 1981 hingga 1989, kadar kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovascular di Semenanjung Malaysia bertambah dari 15.3 bagi setiap 100,000 penduduk kepada 37 bagi setiap 100,000 penduduk. Kemasukan ke hospital bagi penyakit ini telah bertambah dari 10,190 kepada 64,696 di antara 1965 dan 1989, pertambahan sebanyak 534% dalam masa 24 tahun. Tetapi mungkin pertambahan ini berlaku disebabkan oleh beberapa perkara, antaranya kemungkinan disebabkan timbulnya kesedaran mendalam di kalangan penduduk Malaysia menyebabkan mereka lebih kerap memeriksa kesihatan mereka. Ini menyebabkan lebih banyak kes baru direkodkan berbanding masa yang lalu.

Jantung merupakan satu organ yang penting dan sebarang gangguan kepada jantung akan mengakibat penyakit yang boleh membawa maut. Antara keadaan yang mengakibatkan sakit jantung adalah kerosakan pada koronari arteri dalam jantung. Keadaan kerosakan pada koronari arteri ini dikenali sebagai penyakit koronari jantung. Penyumbang utama penyakit koronari jantung adalah arthrosklerosis. Arthrosklerosis berlaku apabila gumpalan lemak terkumpul dalam saluran darah lalu menyempitkan laluan darah beroksigen kepada jantung. Ini akan menjadikan jantung kekurangan oksigen dan apabila keadaan ini berterusan, bahagian jantung yang tidak menerima oksigen itu akan mati dan menjadi biru kehitaman.

Gumpalan lemak ini dipercayai berasal daripada kalesterol yang tinggi dalam darah, oleh itu anda dinasihatkan mengurangkan kadar pengambilan lemak tepu yang mengandungi kalesterol yang tinggi. Arthroskelorosis berlaku secara perlahan-lahan dan mengambil masa yang panjang untuk terbentuk. Bagaimanapun sekiranya tidak dikesan dan dirawat awal, arthrosklerosis boleh menjadi bertambah buruk dan boleh menyebabkan kematian. Tanda-tanda penyakit koronari jantung adalah sesak nafas atau tercungap-cungap bila kepenatan, degupan jantung yang luarbiasa, angina pektoris, sakit jantung, lemah jantung dan kematian mengejut.

Bagaimana Terjadinya Sakit Jantung

Angina (sakit dada bila kepenatan) terjadi akibat berlakunya arthrosklerosis di mana saluran yang membekalkan darah ke otot-otot jantung menyempit dan pengaliran darah terhalang. Serangan sakit jantung terjadi apabila darah membeku di kawasan arthrosklerosis dan menghalang sepenuhnya pengaliran darah ke otot-otot jantung. Keadaan ini menyebabkan sel jantung mati akibat tidak mendapat oksigen.

Tanda-tanda serangan sakit jantung termasuklah kesakitan di bahagian jantung, berpeluh, loya dan kesukaran untuk pernafasan.

Dalam kes-kes serangan sakit jantung tertentu ia tidak menunjukkan tanda-tanda biasa.

Irama degupan jantung EKG.Irama degupan jantung EKG.

Faktor-faktor yang meningkatkan kemungkinan menghadapi penyakit jantung koronari

  • Jika anda mempunyai keturunan yang mengidap penyakit jantung.
  • Jika anda berusia 35 tahun ke atas dan mempunyai masalah berat badan.
  • Jika anda merokok.
  • Jika anda gagal mengawal tekanan darah anda.
  • Jika anda mengidap penyakit kencing manis.
  • Jika anda menghadapi masalah mengawal tekanan.
  • Jika pemilihan makanan anda tidak betul makanan anda mengandungi kadar kolesterol dan lemak yang tinggi.
  • Jika anda kurang bersenam.
  • Jika anda kurang memakan sayur dan buah segar.
Bagaimana mengurangkan risiko sakit jantung.

Anda boleh memastikan samaada keluarga sebelah ibu atau sebelah bapa anda ada yang mengidap penyakit jantung. Sekiranya ada, anda perlu lebih berwaspada dengan tanda-tanda penyakit jantung dan digalakkan menjalani pemeriksaan tahunan. Walau bagaimanapun, adalah lebih baik sekiranya anda mengambil langkah-langkah pencegahan walaupun tidak mempunyai keturunan yang pernah sakit jantung.

Adalah lebih baik sekiranya anda mengelakkan atau berhenti merokok terutama sekiranya anda berusia melebihi 35 tahun. Anda juga perlu mengambil ubat dan mengawal permakanan anda sekiranya anda mempunyai tekanan darah tinggi atau kencing manis. Anda juga perlu mengawal tekanan perasaan anda dan jangan cepat meradang atau runsing. Berbincanglah dengan keluarga terdekat sekiranya anda berhadapan dengan masaalah.

Mereka yang mempunyai kecenderungan mendapat penyakit jantung juga digalakkan memakan daging putih "white meat" seperti daging ayam, ikan, dan mengelakkan dari terlalu kerap memakan daging merah "red meat" seperti daging lembu, kambing, kerbau dan lain-lain sepertinya.

Senaman yang dimulakan secara beransur-ansur, akan membantu merangsang aliran darah untuk mengalir dengan lebih lancar. Pastikan anda mendapat nasihat doktor sebelum mula bersenam, dan mulalah bersenam secara beransur-ansur.

Gentian serat yang terdapat dalam makanan dipercayai boleh menyerap sebahagian dari lemak / kalesterol, oleh itu pakar permakanan mempercayai makanan yang banyak serat seperti bijiran oat dapat mengurangkan jumlah kalesterol yang diserap oleh badan, dengan itu mengurangkan kadar berlakunya arthrosklerosis. Bagaimanapun, serat semulajadi juga banyak terdapat dalam sayuran dan buah-buahan segar dan pengambilan sayur dan buah-buahan segar juga mampu menyerap kalesterol.



0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)

Apakah Penyakit Jantung Itu?

Penyakit jantung adalah penyakit yang mengganggu sistem pembuluh darah atau lebih tepatnya menyerang jantung dan urat-urat darah, beberapa contoh pentakit jantung seperti penyakit jantung koroner, serangan jantung, tekanan darah tinggi, stroke, sakit di dada (biasa disebut "angina") dan penyakit jantung rematik.
Penyakit jantung koroner merupakan yang paling tertinggi yang di derita orang-orang. Penyakit ini menyerang pembuluh darah dan dapat menyebabkan serangan jantung. Serangan jantung dikarenakan pembuluh arteri yang tersumbat, yang menghambat penyaluran oksigen dan nutrisi ke jantung. Stroke disebabkan oleh kurangnya aliran darah yang mengalir ke otak, atau terkadang menyebabkan pendarahan di otak.
Namun tidak semua penyakit jantung disebabakan oleh terserangnya pembuluh darah, berikut ini adalah beberapa gangguan lain pada jantung :
Abnormal Heart Rhythms Normalnya jantung berdetak 60 sampai 100 kali tiap menit (atau sekiar 100 ribu kali setiap harinya). Jantung yang bedetak tidak normal biasanya disebut arryhytmia (sering juga disebut dysrhythmia). Jantung yang berdetak terlalu lambat (dibawah 60 kali per menit) disebut bradyarrhythmias. Sedankan yang berdetak di atas 100 per menit disebut tachyarrhytmias.
Heart Failure Atau gagal jantung merupakan yang paling menakutkan. Bukan berarti jantung tidak dapat bekerja sama sekali, hanya saja jantung tidak berdetak sebagaimana mestinya
Heart Valve Disease Rusaknya katup jantung. Katup jantung terdapat pada setiap bilik jantung (jantung kita memiliki 4 buah bilik) yang berfungsi mengatur aliran darah searah menuju jantung.
Congenitas Heart Disease Atau biasa disebut kelainan pada jantung. Menyerang 8 sampai 10 anak dari tiap 1000 kelahiran. Gejala awal biasanya terldeteksi saat kelahiran atau pada masa kanak-kanak. Di Amerika sekitar 500 ribu orang mengalami kelainan jantung pada masa pertumbuhannya dan bertambah sektar 20 ribu orangtiap tahunnya.
Cardiomyopathies Menyerang pada otot jantung itu sendiri. Orang -orang yang terserang penyakit ini biasanya mengalamai pembesaran, pengecilan jantung secara tidak normal dan atau bahkan menjadi kaku. Menyebabkan jantung memompa secara tidak normal (menjadi lebih lemah). Tanpa penanganan yang baik cardiomyopathies akan menyebabakan penyakit yang lebih buruk seperti gagal jantung atau menyebabkan jantung berdetak tidak normal.
Pericarditis Adalah radang yang mengelilingi lapisan jantung. Jarang terjadi, biasanya disebabkan oleh infeksi.
Ada banyak faktor yang menyebabkab kerentanan terhadap penyakit jantung. Faktor utama adalah masalah gaya hidup yang menyebabkan seolah membangun penyakit di dalam tubuh. Tapi ada beberapa faktor yang memang tidak dapat diubah, seperti bertambahnya umur atau faktor keturunan. Sebenarnya ak pengen nyertain flashQ tentang jantung yg q punya.. tapi g bisa. gagal. g tau knapa.. aku nulis blog ini, karena salah satu temanQ pengen tau tentang jantung lemah.. so, hope it will be usefull


0 Bilang deh apa yang ada di pikiran kamu
(return to the top)